Langsung ke konten
Berita

Tingkatkan Imunitas Kala Pandemi, Founder Dial Foundation Ungkapkan Tentang Ramuan Leluhur

2 menit baca
46x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Tingkatkan Imunitas Kala Pandemi, Founder Dial Foundation Ungkapkan Tentang Ramuan Leluhur

MALANG NEWS – Saat ini tidak hanya spirit gotong-royong yang menjamur, namun juga semakin marak…

Founder Dial Foundation Pietra Widi, saat menunjukkan SABUSI dengan berbagai jenis. (Had)

MALANG NEWS – Saat ini tidak hanya spirit gotong-royong yang menjamur, namun juga semakin marak gerakan menolong sesama (semisal bagi uang dan sembako di jalanan), menjadi partner pemerintah berjibaku demi rakyat survive di tengah pandemi.

Perpanjangan PPKM Darurat memicu terjadinya frustasi dan depresi sosial pada sebagian masyarakat. Betapa tidak, biasanya rakyat bisa mencari sumber nafkah saat kondisi normal, kini mendapatkan berbagai pembatasan-pembatasan.

Menariknya, dalam fenomena extraordinary ini, bermunculan kearifan budaya lokal yang makin menjamur dan layak diapresiasi.

Baca Juga
Warga Pasuruan Berhasil Diamankan Satreskrim Polres Batu, Diduga Curi Uang Rp 5 Juta

Warga Pasuruan Berhasil Diamankan Satreskrim Polres Batu, Diduga Curi Uang Rp 5 Juta

Berita

Muncul pula kearifan budaya lokal lainnya, semisal pengkonsumsian ramuan-ramuan herbal asli warisan nenek moyang dan leluhur.

Salah satu yang unik adalah minuman herbal buatan Dial Foundation, yang diberi brand SABUSI (Sari Buah Fermentasi) dengan berbagai jenis yang kini makin eksis di tengah pandemi.

Produksi Meningkat

Baca Juga
12 Pedagang Pasar Induk Among Tani Diperiksa Kejari Batu, Nantinya Bakal Periksa Pihak Lain

12 Pedagang Pasar Induk Among Tani Diperiksa Kejari Batu, Nantinya Bakal Periksa Pihak Lain

Berita

Founder Dial Foundation, Pietra Widiadi, mengatakan, usaha SABUSI saat pemberlakuan PPKM Darurat jalan terus bahkan cenderung produksi meningkat.

“SABUSI adalah produk pelestarian warisan leluhur. Produksi SABUSI jalan terus. Karena pemasaran dilakukan secara online. Jadi tidak ada kendala. Kecenderungan malah meningkat karena produksi SABUSI dilakukan dalam jangka panjang prosesnya. Jadi kalau hari ini memulai membuat, maka minimal 6 bulan kemudian baru bisa panen SABUSinya,” terang Pietra yang juga Alumnus FISIP Universitas Airlangga ini, Minggu (18/7/2021).

Selanjutnya Pietra menjelaskan, pembeli SABUSI selama ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga
Korban Terpeleset di Sungai Ratusan Warga Kaliputih Antar ke TPU

Korban Terpeleset di Sungai Ratusan Warga Kaliputih Antar ke TPU

Berita

“Yang beli SABUSI umumnya adalah jaringan @pendopo_kembangkopi dan jaringan dari founder Dial Foundation yang tersebar di seluruh Indonesia,” papar pemilik Pendopo Kembangkopi Wagir ini.

Secara kondisi (pandemi) dan maraknya isoman (isolasi mandiri), sebenarnya trend masyarakat membutuhkan suplemen meningkat. Pietra memberikan tanggapan dan penjelasan.

“SABUSI adalah minuman yang juga merupakan semacam herbal. Proses fermentasi dari buah matang dengan kualitas baik, yang difermentasi juga memberikan rasa hangat di tubuh. Kesimpulannya, dia (SABUSI) berfungsi juga seperti antioksidan dan suplemen untuk mendongkrak imunitas tubuh. Saat ini kita sangat butuh fisik yang prima dan sehat agar tidak terinfeksi Covid-19,” terangnya.

“Harapannya adalah SABUSI makin dikenal, seperti halnya dengan wine. Dengan meminum SABUSI mendorong upaya sehat. Tentu cara meminumnya cukup 1 gelas kecil tidak perlu 1 botol 1/2 liter, atau 1 liter,” pungkasnya.

Silahkan untuk informasi lebih lanjut bisa menyimak di: 0811-138-436.
Atau buka laman website: https://dial.or.id/.
Instagram: https://instagram.com/dialfoundation?utm_medium=copy_link.
Instagram Pendopo Kembangkopi:
https://instagram.com/pendopo_kembangkopi?utm_medium=copy_link (Had)

AD 728x90 — Landscape
E

Ditulis oleh

Edo Rabmadhani

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.